w

Imaji

Imaji

Agus M Irkham  ;   Pegiat Literasi
KORAN TEMPO, 18 September 2014

                                                                                                                       
                                                      

Untuk perayaan Hari Aksara Internasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menyelenggarakan beberapa acara, salah satunya Festival Taman Bacaan Masyarakat (TBM) ketiga yang akan berlangsung di Kendari, Sulawesi Tenggara, 17-21 September 2014.

"Merayakan Keragaman Imajinasi Menuju Literasi Indonesia Unggul" menjadi tema festival ini. Tema yang kontekstual itu dipadu dengan situasi yang belangsung di Indonesia, yaitu tengah bermekarannya beragam aktivitas produktif yang berbasis pada imaji. 

Betul sekali nubuat Albert Einstein bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Karena itu, jika TBM ini ingin menjadi bagian dari apa yang disebut literasi Indonesia unggul, ia harus selalu terhubung dengan persoalan-persoalan kebangsaan serta isu-isu global sebagai sumber imaji dan gagasan, bukan terus berkutat pada persoalan internal, seperti koleksi buku yang kurang atau jumlah pengunjung yang sedikit. Kalau persoalan klasik dan klise ini yang terus-menerus diekspos, TBM tidak akan ke mana-mana dan tak akan move on.Tak jadi masalah bila TBM ini merupakan entitas kecil. Sebab, biarpun kecil, kalau produktivitasnya tinggi, tetap akan mewarnai Indonesia.

Menurut saya -dalam konteks TBM sebagai salah satu pegiat budaya baca dan keberaksaraan-ada tiga penanda suatu bangsa dapat dikatakan memiliki keunggulan literasi. Pertama, memiliki program atau gerakan budaya membaca yang bersifat nasional. Misalnya, Hari Berbagi Buku Nasional (HB2N), Satu Rumah Satu Rak Buku, atau program Dari Buku Menjadi Karya. Manfaat kehadiran gerakan nasional ini secara isu akan menyatukan semua pegiat budaya membaca di Indonesia. Gerakan nasional itu menjadi pusat orbit aksi literasi di daerah. Minimal secara wacana, isu budaya membaca ini juga akan terus hidup. Tidak hilang dan mati akibat tertindih oleh persoalan yang terus datang bergulung-gulung menghampiri negeri ini.

Kedua, ada produk yang dihasilkan. Produk yang didasari imaji dan pengetahuan sebagai titik pijak keberangkatan awal. Melalui produk tersebut, orang bisa mencandrai dinamika dari sebuah gerakan budaya baca. Wujudnya bisa bersifat fisik, seperti buku yang berisi kearifan lokal, alat permainan edukatif literasi, dan hasil praktek dari buku menjadi karya. Atau yang bersifat non-fisik, misalnya warung arsip digital, perangkat lunak (software) pengelolaan TBM/perpustakaan, serta game literasi gratis yang dipasarkan melalui Android.

Ketiga, sistem. Menyadari betapa luasnya Indonesia kita ini, gerakan budaya membaca tentu saja tidak bisa direngkuh melalui pendekatan terpusat. Ia harus menjadi inisiatif masing-masing daerah. Sistem dibuat agar dapat dijadikan rujukan bagi semua pemangku kepentingan budaya membaca. Ini bisa membantu mereka menjawab pertanyaan, misalnya tentang dari mana dan bagaimana sebuah gerakan budaya membaca harus dimulai.

Tanpa ketiga hal tersebut, keunggulan literasi akan tetap menjadi mimpi. Karena itu, agar mimpi ini menjadi kenyataan, diperlukan upaya merasionalkan imaji dan kegilaan tingkat tinggi dalam menekuninya.

Buku

Buku

Agus M Irkham  ;   Pegiat Literasi
KORAN TEMPO, 02 September 2014
                                      
                                                      

David C. McClelland (1917-1998) adalah seorang psikolog sosial asal Amerika Serikat yang tertarik pada masalah-masalah pembangunan. McClelland mempertanyakan, mengapa ada bangsa-bangsa tertentu yang rakyatnya bekerja keras untuk maju, dan ada yang tidak. Dia membandingkan antara bangsa Inggris dan Spanyol, yang pada abad ke-16 merupakan dua negara raksasa yang kaya raya. Sejak saat itu, Inggris terus berkembang menjadi semakin besar. Namun Spanyol menurun menjadi negara lemah. Mengapa bisa terjadi demikian? Apa penyebab timbulnya ketimpangan kemajuan tersebut?

Berdasarkan tuturan Arief Budiman dalam buku Teori Pembangunan Dunia Ketiga (1995), setelah mencari beberapa aspek melalui penelitian dan pembuktian yang nyata, akhirnya McClelland menemukan jawabannya. Ternyata faktor penentu perbedaan itu terletak pada (buku) cerita dan dongeng anak-anak yang terdapat di kedua negeri tersebut. Kelihatannya, dongeng dan cerita anak-anak di Inggris pada awal abad ke-16 itu mengandung semacam virus yang menyebabkan pembacanya terjangkiti penyakit "butuh berprestasi" (need for achievement). Sedangkan cerita anak dan dongeng yang ada di Spanyol didominasi oleh cerita romantis, lagu-lagu melodramatis, dan tarian yang justru membuat penikmatnya lunak hati, meninabobokan.

McClelland juga mengumpulkan 1.300 cerita anak-anak dari banyak negara dari era 1925 dan 1950. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa cerita anak-anak yang mengandung nilai achievement (hasrat berprestasi) yang tinggi pada suatu negeri selalu diikuti oleh adanya pertumbuhan yang tinggi pula pada negeri itu dalam kurun waktu 25 tahun kemudian. Penelitian McClelland menghasilkan satu kesimpulan: buku (bacaan) mempunyai kekuatan untuk mengubah seseorang.

Setelah keputusan Mahkamah Konstitusi, yang mengukuhkan pengusung revolusi mental Jokowi-JK menjadi Presiden-Wakil Presiden RI ke-7-merujuk pada hasil penelitian McClelland-salah satu strategi kebudayaan untuk melakukan revolusi mental adalah melalui buku.

Berdasarkan penelitian McClelland, perubahan mental di Spanyol dan Inggris membutuhkan waktu 25 tahun. Jepang memerlukan waktu "sangat singkat" untuk mengubah mental para generasi muda tentang sepak bola. Melalui penerbitan komik manga Captain Tsubasa yang untuk pertama kalinya terbit pada 1994, pemerintah Jepang betul-betul melakukan revolusi mental. Hanya butuh waktu sewindu-terhitung dari pertama terbit-yakni pada 2002, berbagi dengan Korea Selatan, Jepang menjadi tuan rumah Piala Dunia sekaligus berhasil lolos ke babak kedua.

Pada titik kesadaran itu, kebijakan tentang perbukuan tidak bisa diandaikan lagi. Besar harapan saya, Jokowi memberi kesempatan kepada para stakeholder budaya baca, terutama yang diprakarsai oleh para penulis, penerbit, jurnalis, media massa, perguruan tinggi, dan para pegiat literasi, untuk bertemu dan secara khusus membahas ihwal buku, visi dunia penerbitan kita sebagai strategi kebudayaan dan "jalan cepat" menuju perubahan mental tersebut. Dan ini pula yang menjadi harapan para pengelola Taman Bacaan Masyarakat yang terlibat dalam Rembuk Budaya Baca di Yogyakarta pada 11-14 Agustus lalu.
Back to top