w

Impersonal

Impersonal

Bre Redana  ;   Penulis Kolom “Catatan Minggu” di Kompas Minggu
KOMPAS, 31 Agustus 2014

                                                                                                                       


KADANG saya membayangkan suatu saat saya harus bisa menerbangkan sendiri pesawat. Itu bukan karena cita-cita yang tidak kesampaian, sebab semasa bocah pun sumpah saya tidak bercita-cita jadi pilot. Melainkan, betapa untuk urusan naik pesawat, terutama di pelabuhan-pelabuhan udara modern, sekarang semua cenderung harus dilakukan sendiri oleh calon penumpang.

Seperti terjadi di pelabuhan udara Muenchen baru-baru ini. Saya tiba di bandara di Jerman itu pukul empat pagi. Pesawat yang hendak membawa saya ke Kopenhagen dijadwalkan lepas landas pukul enam. Bandara sepi. Meja check in tidak ada petugas.

Saya tolah-toleh seperti kunyuk mencari bocah yang menyumpitnya. Di Indonesia, biasanya ada saja orang siap membantu. Satu-dua calon penumpang saya lihat memencet-mencet mesin untuk mendapatkan boarding pass.

Dengan kepercayaan diri di bawah 50 persen, saya coba ikut-ikutan. Saya pencet tombol. Keluar instruksi. Kadang mesin seperti ngadat, bahkan menyatakan saya salah. Diam-diam saya panik. Saya tidak terlatih merayu mesin.

Entah bagaimana, keluar juga boarding pass. Persoalan berikut, bagaimana dengan koper, yang harus masuk bagasi pesawat? Kembali saya harus berhadapan dengan mesin, yang terletak persis di pinggir conveyor alias ban berjalan. Dengan logika seadanya saya letakkan koper di atas conveyor.

Kembali saya memencet-mencet. Setelah kekeliruan beberapa kali, keluar lembaran kertas berperekat yang harus saya kalungkan di pegangan kopor. Tiba-tiba conveyor bergerak, membawa koper saya pergi. Kaget saya. Sempat terpikir, kalau saya lengah, jangan-jangan saya ikut terbawa, tercemplung di bagasi pesawat.

Sungguh pagi yang menegangkan. Dunia makin impersonal. Kita tidak lagi berhadapan dengan orang yang bisa kita tanya-tanya.

Sudah diakrabi cukup banyak orang, mentransfer uang sekarang tidak lagi perlu berhadapan dengan petugas bank. Cukup dilakukan sendiri lewat ATM, laptop, atau handphone. Yang masih ke bank berhadapan dengan petugas untuk mengambil uang tinggal orang-orang berumur.

Begitu pun pemesanan tiket pesawat, kereta api, hotel, dan lain-lain. Tak diperlukan lagi berhadapan dengan orang. Belum lagi urusan lebih sehari-hari seperti Coca-Cola, cokelat, kopi panas, kondom, dan lain-lain. Semua bisa didapat lewat mesin. Kita tinggal menyemplungkan koin.

Itulah bagian dari revolusi digital yang kita alami kini dan bakal menjadi masa depan kita. Manusia makin teralienasi dari manusia lain. Andaikata Nietzsche masih hidup, paling hanya dia yang bungah.

Sebaliknya, bagi sebagian besar manusia, justru ada kebutuhan makin besar atas komunitas, sosiabilitas, suasana kekeluargaan, di tengah arus globalisasi dan revolusi digital ini. Itu yang saya rasakan, sekaligus yang menjadi alasan saya ke Jerman. Saya mengikuti Guru Gunawan Rahardja, menghadiri retret para anggota perguruan dari seluruh negara di Eropa. Selama sepuluh hari kami bersama mereka, berlatih silat pagi sore, bercengkerama, ngobrol, setiap hari.

Dari Jerman, usai kegiatan yang oleh sebagian orang dianggap katrow, kuno ini, melalui Kopenhagen saya menuju Swedia untuk tugas kantor. Saya akan mengunjungi perusahaan furniture modern, yang mereknya niscaya tak asing bagi kalangan atas Jakarta.

Tadinya, saya bersiap-siap untuk melakukan wawancara dan eksplorasi soal bentuk, rupa, fungsi, dan berbagai hal yang berhubungan dengan dunia desain mutakhir. Ancang-ancang tersebut seketika saya ubah. Begitu bertemu, pihak perusahaan ini lebih banyak bicara bagaimana menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik, bagi sebanyak-banyaknya orang. Tak ketinggalan, tanggung jawab untuk kelangsungan hidup di masa depan, atau istilahnya: sustainability. Itulah katanya inti kreasi mereka.

Peta

Peta

Samuel Mulia  ;   Penulis Mode dan Gaya Hidup, Penulis Kolom “Parodi” di Kompas
KOMPAS, 31 Agustus 2014

                                                                                                                       


ENTAH kenapa, belakangan ini kesehatan saya seperti gempa yang meluluhlantakkan. Setelah kena prostatitis yang tak berkesudahan, serangan alergi pendingin ruangan yang membuat hidung mampet dan susah bernapas datang menghampiri. Jangka waktu terjadinya kedua penyakit itu tak membutuhkan waktu lama. Sampai saya kelelahan.

Terseok

Beberapa hari lalu, saya bersama lima teman berjalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan dalam rangka ulang tahun salah satu sahabat kami. Tak lama setelah semangat saya yang berapi-api menyala karena sudah lama sekali tak mengunjungi area seluas sekian hektar itu, saya mulai kelelahan berjalan dan napas saya seperti habis mengikuti lomba lari sekian kilometer.

Melihat kondisi itu, sahabat kami yang berulang tahun menyarankan saya untuk beristirahat saja. ”Mas, kamu tu jalannya sudah terseok-seok, istirahat aja, jangan dipaksain.” Saya kemudian mengikuti sarannya untuk beristirahat. Duduk di bawah sebuah pohon yang rindang meski udara sore itu panasnya seperti berdiri di depan kompor.

Terseok-seok. Itu ungkapan yang merindingkan bulu roma, terutama buat saya yang tak pernah mencicipi rasanya terseok itu. Sekarang, selain terseok berjalan, saya juga tak kuat lagi berdiri dari posisi jongkok.

Saya harus memegang sesuatu atau mencari bantuan untuk berdiri kembali. Menaiki tangga bahkan yang tak terlalu tinggi saja, saya juga sudah kelelahan. Tentu saya memutuskan memeriksakannya ke dokter meski ada di antaranya yang salah mendiagnosis.

Ketika saya menyaksikan teman-teman saya berjalan tanpa henti di kebun binatang itu, sambil ditimpali tawa tergelak, yang tak membersitkan kelelahan sedikit pun, tebersit di hati saya perasaan rindu yang sangat akan kekuatan yang dahulu pernah saya miliki di masa semuda mereka.

Kalau dimisalkan siklus hidup sebuah produk, kondisi kesehatan saya telah mencapai puncak dan akan datang masanya untuk menuruninya. Kalau dalam sebuah produk, maka akan ada teknik-teknik agar produk itu diharapkan akan selalu tetap di puncak.

Seandainya saya sebuah produk, saya akan me-re-branding atau me-re-positioning diri. Sayang saya ini bukan produk. Usaha untuk dapat bertahan di puncak adalah dengan pergi ke dokter, menjaga asupan, berolahraga, dan berdoa. Tetapi usaha itu telah membuat seorang dokter mengatakan, ”Kenapa ya kamu ini. Jantungnya bagus, tekanan darahnya bagus. Kok, bisa kayak gini.”

Menang

Beberapa hari setelah berjalan-jalan di kebun binatang itu, saya kembali ke dokter. Singkat cerita, saya terkena hydronephrosis. Gempa yang tadinya sudah terasa meluluhlantakkan, sekarang seperti gempa yang lebih dari tektonik rasanya.

Di dalam mobil teman yang membawa saya pulang ke rumah, saya terdiam, tak bisa berpikir apa pun. Melihat Jakarta dalam malam, seperti tak melihat apa-apa. Bahkan teman yang membawa saya pulang seperti terasa tak berada di dalam mobil.

Kemudian beberapa hari setelah itu, saya membaca buku. Dituliskan bahwa untuk sukses, untuk dapat meraih masa yang gemilang, seseorang harus memiliki peta. Dan, peta yang digunakan harus up-to-date. Kita tak bisa meraih kesuksesan hari ini dengan peta buatan tahun 1997.

Sejak saya diizinkan lahir di dunia ini, saya tak pernah membuat peta kesehatan. Gobloknya, saya ini berpikir kalau saya bisa sehat senantiasa. Saya itu tak pernah tahu kalau ginjal saya tumbuh di bawah pusar.

Sayangnya, beberapa penyakit lebih memilih diam sejuta bahasa, yang tak mau ”berbicara” di stadium dini, di stadium tanpa gejala, di stadium seorang dokter bisa jadi mengatakan tak ada apa-apa, dan yang menyebabkan seseorang berpikir bahwa ia sehat-sehat saja. Penyakit yang menyesatkan sebuah peta.

Maka terlintas di kepala, apakah ketika saya membuat sebuah peta, seyogianya diselaraskan dengan peta buatan Yang Maha Kuasa untuk saya? Jadi, hasilnya bukan dua buah peta yang berbeda. Saya membuat peta ke kiri, Tuhan memilihkan peta untuk saya ke kanan.
Dua puluh empat jam sebelum saya mengirimkan tulisan ini ke meja redaksi, saya memutuskan membuat peta 2014 yang tak akan memiliki masa kedaluwarsa, yang akan bisa digunakan di sepanjang masa.

Saya tak memutuskan untuk menyelaraskan peta saya dengan peta yang Tuhan buat untuk saya. Saya meniadakan peta saya dan hanya mengikuti peta Yang Maha Kuasa untuk saya saja. Dari manakah saya tahu bahwa itu peta untuk saya?

Anda tahu ungkapan tak kenal maka tak sayang, bukan? Nah, syarat pertamanya, harus sayang dengan yang Maha Kuasa. Sayang yang saya maksud adalah memahami dengan sepenuh hati bahwa Yang Maha Kuasa itu berhak untuk memberi dan Ia berhak untuk mengambilnya kembali dengan cara apa pun.

Pemahaman membuahkan sebuah kemenangan dalam perjalanan yang penuh dengan gempa, tanpa meluluhlantakkan jiwa. Sekarang, saya bisa melihat Jakarta dalam malam seperti yang sesungguhnya.

Memilih Hidup yang Lebih Beruntung, Mungkinkah?

Memilih Hidup yang Lebih Beruntung, Mungkinkah?

Agustine Dwiputri  ;   Penulis kolom “Konsultasi Psikologi” Kompas
KOMPAS, 31 Agustus 2014

                                                                                                                       


Ada dua orang yang mengeluhkan persoalan mereka. Pertama, pria dewasa yang merasa tidak juga sukses karena banyak saingan kerja yang mengancam kariernya. Kedua, seorang wanita yang merasa gagal membahagiakan ibunya yang lansia karena terus mengeluh meski sudah diberi fasilitas lengkap di rumah bersamanya.

Tampak adanya persamaan masalah, yaitu keduanya merasa belum puas atau kurang beruntung dengan hidup yang telah mereka jalani selama ini. Masalah semacam ini sebenarnya dialami juga oleh banyak orang, dengan situasi yang bervariasi. Banyak orang sebenarnya memperoleh berbagai kesempatan dan peluang untuk meraih keberuntungan, baik secara kebetulan, melalui suatu pertemuan, dalam bentuk hadiah yang tak terduga, maupun dari adanya kejutan dalam kehidupannya sehari-hari, tetapi mereka tidak memperhatikan hal itu. Acap kali kita mengabaikannya dan melanjutkan kehidupan seolah-olah tidak ada suatu hal penting yang telah terjadi. Jika kondisi ini memang merupakan hal yang kita pilih untuk diyakini, maka tidak ada artinya antara yang telah terjadi atau akan terjadi.

Sementara menurut Tal Ben-Shahar, PhD, dalam bukunya Choose the Life You Want, the Mindful Way to Happiness (2012), kita sebenarnya telah berutang pada diri kita untuk merebut peluang keberuntungan itu. Dia sangat menyarankan agar kita dapat menciptakan keberuntungan kita sendiri. Tak peduli apakah kita percaya pada ketentuan Tuhan atau tidak, apakah kita percaya atau tidak bahwa pengalaman yang acak tampaknya mengandung pelajaran bermakna yang secara langsung relevan dengan kehidupan kita, terbukti bahwa ada banyak hal yang bisa diperoleh dari memperhatikan ke-jadian yang sifatnya kebetulan saja, yang oleh psikolog Carl Jung disebut sinkronisitas.

Secara jelas, memang ada aspek-aspek kehidupan saat kita tidak memiliki kontrol atau kekuasaan untuk mengendalikannya. Tapi sejauh mana kita memiliki kapasitas untuk membuat keberuntungan kita sendiri adalah hal yang penting. Sebagai contoh, jika kita bekerja pada sebuah perusahaan keluarga yang masih tradisional, tak mungkin kita dapat menggantikan posisi sebagai pimpinan tertinggi di situ. Namun, kita tetap dapat menjadi seseorang yang mempunyai pengaruh sangat besar dalam mengembangkan perusahaan.

Ciri orang beruntung

Richard Wiseman dari Universitas Hertfordshire mempelajari orang-orang yang beruntung, baik mereka yang menganggap diri beruntung dan mereka yang dianggap orang lain mengalami keberuntungan. Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa ada karakteristik yang tampil berupa pola perilaku dan pemikiran, yang membedakan orang yang beruntung dan tidak beruntung.

Salah satu cara orang-orang yang dianggap beruntung secara nyata membuat keberuntungan mereka adalah dengan memperhatikan dan memanfaatkan kesempatan dalam pertemuan yang mereka datangi. Apabila kebanyakan orang melihat suatu kebetulan tak ada artinya, orang beruntung melihat adanya kesempatan yang bermakna. Orang beruntung tidak menunggu keberuntungan datang dengan cara mereka: mereka menciptakannya secara nyata dengan mengubah rutinitas mereka sehari-hari: misalnya surat kabar yang dibaca, arah jalan yang mereka ambil ketika mengendarai mobil ke kantor, kegiatan yang mereka hadiri, orang-orang yang dipilih untuk didekati, dan sebagainya. Perubahan ini meningkatkan kemungkinan bahwa mereka akan menemukan kesempatan yang bermakna.

Karakteristik lain dari orang yang beruntung adalah bahwa mereka cenderung berfokus pada bagian gelas yang terisi, bukan bagian yang kosong. Jika mereka dirampok, mereka mengucap syukur karena tidak disakiti secara fisik; jika mereka kurang berprestasi dalam pekerjaan, mereka cenderung berpikir tentang apa yang telah mereka pelajari dari pengalamannya dan bagaimana mereka dapat terus berkembang; jika ibu banyak mengeluh, dia bersyukur bahwa ibu masih mandiri dalam kegiatannya dan dia punya uang cukup untuk menyediakan berbagai fasilitas bagi ibunya.

Dengan cara ini, melalui interpretasi mereka mengenai suatu peristiwa, mereka mengubah sesuatu yang orang lain mempertimbangkannya secara negatif (uangnya habis, banyak pesaing, ibunya kurang berterima kasih) menjadi sesuatu yang positif (tidak disakiti, kesempatan untuk belajar, uang cukup untuk memfasilitasi kebutuhan ibu). Interpretasi tentang sesuatu yang terjadi di masa lalu ini memengaruhi apa yang akan terjadi di masa depan. Keyakinan sering berfungsi sebagai self-fulfilling prophecies, sesuatu yang diyakini akan terjadi justru benar-benar terjadi sehingga mereka yang yakin bahwa mereka beruntung jauh lebih mungkin untuk menjadi demikian dalam kehidupan nyata.

Lakukan apa yang ingin dilakukan

Untuk kasus yang kedua, tampaknya kita perlu mempertimbangkan lebih lanjut bagaimana perlakuan wanita tersebut selama ini terhadap ibunya yang lansia. Dalam buku yang sama ada hasil penelitian Ellen Langer dan Judith Rodin terhadap dua kelompok lansia yang berbeda. Satu kelompok menerima semua dukungan dan fasilitas yang mereka butuhkan—semua hal dilakukan untuk mereka, mulai dari mengatur jadwal, menyiapkan makan, hingga menyiram tanaman mereka. Kelompok kedua diberi beberapa tanggung jawab dan pilihan. Misalnya, mereka memilih sendiri tanaman dan merawatnya; mereka memiliki lebih banyak pilihan atas keputusan dalam kehidupan mereka sendiri, seperti kapan mereka akan menonton film dan sebagainya. Mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk memilih hal-hal yang mereka ingin lakukan.

Delapan belas bulan kemudian dilakukan evaluasi, ternyata kelompok kedua secara signifikan lebih sehat, lebih aktif, kurang depresif, dan lebih percaya diri, waspada, dan ceria. Bahkan hasil paling mencolok dari studi ini adalah bahwa tingkat kelangsungan hidup anggota kelompok yang diberi tanggung jawab dan pilihan, dua kali lebih tinggi dari kelompok pertama. Artinya, daripada mencoba untuk membantu orang, baik pada mereka yang berusia muda maupun tua, dengan memberi setiap kebutuhan mereka, kita perlu juga menyediakan pilihan kepada mereka. Kehidupan dapat berubah ketika kita bergerak dari perasaan harus ke perasaan ingin, dari kegiatan yang ditentukan ke kegiatan yang dapat dipilih secara bebas.

Jadi kita perlu mulai menciptakan keberuntungan diri sendiri dengan mengubah rutinitas kita, dengan melakukan hal-hal yang berbeda serta dengan memperhatikan betapa sudah beruntungnya kita dalam menjalani kehidupan. Selamat merenung.

Mencintai Nasib

Mencintai Nasib

Anonim  ;   Kolumnis “Kredensial” Kompas Minggu
KOMPAS, 31 Agustus 2014

                                                                                                                       


Suatu hari, Thomas Hobbes (1588-1679)—seorang wartawan, filsuf, sejarawan, akademisi, dan ilmuwan politik—mengatakan, manusia pada dasarnya secara alamiah kompetitif: ingin tampak lebih baik, lebih perkasa, dan lebih kuat dibandingkan yang lain.

Namun, pada saat bersamaan, manusia secara alamiah pula mudah diserang; bahkan orang-orang yang sangat kuat pun dapat dijatuhkan oleh orang yang sangat lemah. Barangkali cerita pertempuran antara Daud dan Goliath menjadi salah satu contohnya, tentang bagaimana orang yang sangat lemah dapat mengalahkan orang yang sangat kuat.

Oleh karena manusia secara alamiah kompetitif dan sekaligus mudah diserang, maka usaha untuk saling menyerang, saling menjatuhkan, bahkan saling membunuh, senantiasa terjadi. Inilah sebabnya pula, kebanyakan manusia secara alamiah ganas, jahat, karena mereka menikmati kekerasan. Hal itu terjadi karena tidak ada saling percaya di antara manusia.

Ketika orang menginginkan kekuasaan, sifat alamiah itu muncul. Kekuasaan, memang, dapat membuat tertutupnya mata dan hati manusia. Demi kekuasaan, apa pun dilakukan. Sifat dasar manusia yang jahat pun menjadi lebih dominan. Apalagi kalau kegagalan yang disandang terjadi di ujung jalan mengejar kekuasaan itu, maka seperti dikatakan Hobbes, manusia bisa menjadi serigala bagi manusia lain.

Hal itu terjadi, kalau—menurut istilahnya kaum Stoa, kelompok yang didirikan Zeno pada abad ketiga SM—manusia tidak mencintai nasib. Imanuel Eko Anggun dalam Basis (2014) yang mengutip pendapat Marcus Aurelius Antoninus Augustus (121-180), seorang filsuf, menulis, mencintai nasib itu digambarkan seperti seorang manusia yang tinggal di dunia yang telah melahirkannya. Sadar sepenuh-penuhnya di mana ia berada; benar-benar menginjak bumi; menerima kenyataan. Dengan demikian, akan menerima dan mengalami kebahagiaan karena tak hidup di alam mimpi.

Akan tetapi, dalam praktik politik, ternyata ”mencintai nasib” itu sangat sulit dilakukan. Apa yang dilakukan kandidat presiden Afganistan, Abdullah Abdullah, bisa menjadi salah satu contoh. Menurut berita yang tersiar, Selasa lalu, Abdullah mengancam akan menarik diri dari proses audit suara hasil pemilu yang dikatakan penuh kecurangan secara masif. Ada lebih dari 8 juta suara hasil Pemilu 14 Juni lalu yang harus diaudit. Dua kandidat presiden, Abdullah Abdullah dan Ashraf Ghani Ahmadza, sama-sama mengklaim sebagai pemenang.

Sengketa hasil pemilu biasa terjadi di banyak negara. Pemilu presiden di AS (2000) juga diwarnai sengketa hasil pemilu antara Al Gore dan George W Bush. Sengketa dibawa ke Mahkamah Agung dan hasilnya George W Bush dinyatakan sebagai pemenang. Al Gore menerima putusan itu dan memberikan selamat kepada George W Bush. Ia, dalam bahasa kaum Sota, ”mencintai nasib”-nya.

Tidak mudah ”mencintai nasib”. Menerima apa yang terjadi, tunduk pada kenyataan tersebut, membutuhkan keberanian. Dan, senyatanya, tidak semua orang memiliki keberanian untuk tunduk pada kenyataan, untuk ”mencintai nasib”, dengan sepenuh hati. Legawa.

Angklung

Angklung

Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KORAN SINDO, 31 Agustus 2014

                                                                                                                       


Hampir semua orang Indonesia tahu angklung. Sebagian mungkin baru dengar-dengar saja, tetapi jauh lebih banyak yang sudah pernah menonton pertunjukannya (kendati hanya lewat TV), bahkan tidak sedikit yang sudah pernah ikut memainkan alat musik yang sudah kondang di seantero bumi ini.

Saung Ujo di Bandung adalah salah satu tempat kita bisa belajar main angklung dalam waktu 10-15 menit saja. Saya pernah mengajak seorang teman saya, Dr Roseline Davido, psikolog dari Prancis, untuk berkunjung ke saung (dari bahasa Sunda, artinya: rumah) yang semua orang Bandung tahu itu. Saya pikir, pasti dia senang menonton musik khas daerah, yang alatnya juga sangat unik. Maka dengan mengajak istri saya juga, pergilah kami bertiga ke Bandung dengan tujuan: Saung Ujo (tentu saja sesudah itu kami ajak Roseline untuk menikmati aneka atraksi lain yang sangat menarik di Bandung dan sekitarnya, mulai kuliner sampai pemandangan alamnya).

Roseline sangat menikmati saung yang juga berfungsi sebagai workshop dan tempat pameran. Layaknya turis lain, ia sibuk mengarahkan kameranya ke berbagai objek seni dan pertunjukan yang digelar di sana. Terutama ketika tiba saatnya sejumlah anak dan remaja memainkan Blue Danube dan beberapa lagu lain yang akrab di telinganya, dengan harmoni yang sangat indah, padahal setiap pemain hanya bisa memainkan dua alat angklung, yang berarti dia hanya bisa memainkan dua not secara bergantian. Namun, hal yang paling membuatnya kagum, adalah ketika ia sendiri, dan semua pengunjung yang lain, dibagi angklung masing-masing sebuah.

Mula-mula semua membunyikan angklungnya. Nah yang orang Jepang, orang Belanda, orang Prancis (termasuk Roseline), orang Sunda (para turis lokal), orang Jawa (termasuk istri dan saya sendiri), dan orang-orang lain, serempak menggoyangkan angklungnya, sekeras-kerasnya, bahkan ada yang saling adu keras dengan kawannya. Hasilnya adalah hiruk-pikuk luar biasa, bising yang jauh dari musik. Tak lama kemudian, salah satu anaknya Mang Ujo (saya lupa namanya, tetapi beliaulah penerus Mang Ujo) masuk, dan meminta semua hadirin berhenti membunyikan angklungnya.

Serentak semuanya sunyi senyap. Sesudah itu mulailah anaknya Mang Ujo yang menjadi dirigen (yang dengan gerak-gerik tangannya memimpin sebuah orkes), memberi aba-aba untuk angklung ”do” dibunyikan panjang, sesudah itu ”re” panjang lagi. Dan seterusnya sampai semua nada satu oktaf dibunyikan. Kemudian ”do”, ”mi”, dan ”sol”, dibunyikan serempak untuk menghasilkan suara accord ”C”, sesudah itu ”do”, ”fa” dan ”la” untuk accord ”F”, ”sol”, ”si” dan ”re” untuk accord ”G”. Mulai kedengaran harmoni yang indah. Roseline sangat senang, begitu juga gerombolan turis cewek Jepang yang tampangnya seragam, semua mirip girlband Cherry Bells.

Sesudah itu baru mulai memainkan lagu-lagu. Dirigen terampil sekali mengarahkan lebih dari seratus orang untuk tetap dalam harmoni. Apalagi di depan dipasang kain besar bertuliskan lagu dan partitur musiknya sehingga peserta lebih mudah mengikuti arahan dirigen. Selepas acara, saya tanya kepada Roseline, bagaimana kesannya. Jawabnya sangat antusias, dia senang sekali sudah bisa ikut memainkan lagu-lagu yang indah itu walaupun memegang hanya satu not.

Jika seni musik pada umumnya, dan seni angklung pada khususnya, bisa menyenangkan semua partisipan, sejauh masing-masing menyimak dan mengikuti arahan dirigen, lain halnya dengan seni rupa. Seni rupa (seni lukis, seni patung, kaligrafi, seni kerajinan) dibuat sendiri oleh senimannya dan ditawarkan kepada publik. Ada yang senang, bahkan senang sekali sehingga mau membelinya dengan harga yang mahal. Namun, ada juga orang yang tidak senang, malah menganggap seni rupa karya orang lain adalah seni jiplakan atau seni murahan, atau bahkan bukan seni sama sekali. Demikian pula kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Ibarat musik angklung, setiap warga negara hanya memainkan satu atau dua peran, pekerjaan atau profesi. Namun, kalau masing-masing peran, pekerjaan atau profesi itu dijalankan bersama-sama dalam satu perpaduan yang harmonis, di bawah pemimpin bangsa yang hebat, maka bangsa ini akan menghasilkan karya yang adiluhung. Jika sektor industri, distribusi, birokrasi, pendidikan, sarana dan prasarana, dan berbagai sektor lain di Indonesia, misalnya, bisa bersinergi bagaikan musik angklung, maka kita akan menjadi negara besar yang disegani dunia yang rakyatnya bukan hanya sejahtera, juga bahagia karena merasa telah ikut berpartisipasi,

seperti halnya Roseline yang bahagia sekali karena telah ikut memainkan satu not dalam konser angklung indah yang barusan dimainkan. Sebaliknya kalau negara ini dipimpin dengan gaya mau menang sendiri, merasa diri masing-masing adalah yang paling pintar, dan paling benar, maka sebentar saja bangsa ini akan terkoyak-koyak, pecah belah, entah karena faktor suku, agama, rasialisme ataupun antargolongan politik. Sekarang, bagaimana dengan masa depan Indonesia pasca-Pilpres 2014? Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun Mahkamah Konstitusi (MK) telah memenangkan Jokowi dan JK.

Mudah-mudahan presiden dan wakil presiden terpilih ini bisa memainkan perannya sebagai pemimpin bangsa yang bergaya dirigen musik angklung, tetapi para elite politik bangsa ini masih ada saja yang ingin main sendiri-sendiri dan tidak peduli kepada ”dirigen” Jokowi-JK. Bukan hanya yang tadinya berasal dari kubu yang berseberangan, melainkan juga dari para pendukung dan relawan Jokowi-JK sendiri. Sebagian dari mereka ada yang belum puas kalau ide-idenya, gagasannya, atau sarannya belum diterima pimpinan baru bangsa ini yang dulu mati-matian dibelanya. Mereka berlomba-lomba untuk masuk ke ring 1-nya Jokowi dan JK. Malah ada yang berambisi untuk jadi menteri. Mereka pikir, merekalah yang lebih baik daripada relawan yang lain sehingga tanpa keterlibatan mereka, Jokowi dan JK akan gagal. Mudah-mudahan Jokowi-JK bisa mengendalikan para pemain yang mau main sendiri-sendiri ini. Kalau tidak, jangan harap akan terjadi harmoni bangsa seindah harmoni musik angklung versi Mang Ujo.

Permohonan kepada Presiden Terpilih

Permohonan kepada Presiden Terpilih

Jaya Suprana  ;   Rakyat Indonesia; Pencinta Kebudayaan Indonesia
KOMPAS, 30 Agustus 2014

                                                                                                                       


MUMPUNG presiden terpilih masa bakti 2014-2019 belum menetapkan susunan kabinet yang akan berperan serta menentukan kinerja sang presiden, maka dengan penuh kerendahan hati saya sebagai rakyat Indonesia memberanikan diri mengajukan beberapa permohonan.

Kabinet memegang peran utama sebagai pembantu presiden dalam menunaikan tugas memimpin negara dan bangsa. Karena itu, saya memohon agar dalam membentuk kabinet kepresidenannya, presiden terpilih Joko Widodo berkenan fokus menjunjung tinggi kepentingan rakyat, bukan kepentingan partai politik, golongan, keluarga, apalagi dirinya sendiri.

Insya Allah, presiden yang baru berkenan meningkatkan kekebalan lahir-batin dirinya terhadap ancaman virus amnesia yang merajalela di singgasana kepresidenan Republik Indonesia sehingga tidak melupakan janji-janji manis kepada rakyat pada masa kampanye. Jangan pernah lupa bahwa yang memilih presiden melalui pemilihan umum adalah rakyat, bukan parpol!

Semoga presiden terpilih Jokowi saat memilih para menterinya bukan sekadar bagi-bagi jabatan berdasarkan konspirasi politik demi mempertahankan kekuasaan, melainkan berdasarkan realitas kebutuhan dan profesionalisme.
Presiden yang baru perlu menyadarkan segenap menteri kabinetnya, bahkan segenap aparatur negara, bahwa makna istilah pemerintah bukan berarti berhak memerintah, tetapi benar-benar tulus mengabdikan diri bagi kepentingan rakyat!
Semoga presiden yang baru menghapus perangkapan-tugas kementerian agar para menteri dapat memusatkan konsentrasi pada tugas tunggalnya.

Alasan penghematan tidak relevan sebab kinerja menteri yang tidak fokus malah menimbulkan benturan, bahkan konflik kepentingan antara tugas-tugas yang beda satu dengan lainnya. Ujung-ujungnya malah jadi pemborosan energi-lahir-batin dan biaya!

Kementerian

Demi mencegah ketidakfokusan bahkan kebingungan akibat terlalu banyak permohonan, saya fokus memusatkan permohonan saya hanya pada kehadiran kementerian kebudayaan secara mandiri pada kabinet presiden ke-7 RI ini.
Banyak alasan untuk menentang kehadiran kementerian kebudayaan yang sampai dengan masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono masih dianggap penting-memang-penting-tetapi-sebenarnya-tidak-terlalu-penting sehingga cukup ditempelkan pada kementerian lainnya.

Terkesan urusan kebudayaan diposisikan lebih rendah ketimbang urusan pemberdayaan perempuan yang diberi fasilitas kementerian khusus.
Kebudayaan diletakkan di depan pariwisata di masa kementerian kebudayaan dirangkap pariwisata, lalu digeser ke belakang ketika ditempelkan ke kementerian pendidikan.

Olahraga yang sebenarnya merupakan subbagian dari kebudayaan, yang setara dengan kesenian, malah diutamakan dengan menghadirkan Komite Olahraga Nasional Indonesia, sementara belum pernah ada Komite Kesenian Nasional Indonesia. Padahal, dalam kesenian Indonesia terbukti tidak kalah mengharumkan nama Indonesia ketimbang olahraga, apalagi sepak bola!

Bisnis olahraga dianggap lebih menguntungkan ketimbang bisnis kesenian, padahal sudah dibuktikan sebaliknya oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan!
Alasan menolak kementerian kebudayaan malah dipermantap secara konstitusional akibat DPR sudah membuat undang-undang untuk membatasi jumlah kementerian.

Gara-gara hanya setengah hati dianggap perlu, dengan sendirinya kehadiran kementerian kebudayaan diletakkan di antrean paling belakang nun jauh di belakang kehadiran kementerian-kementerian yang dianggap mutlak perlu!

Kebudayaan

Akibat berbentuk lebih abstrak ketimbang ekonomi, politik, dan militer, maka sulit meyakini bahwa kementerian kebudayaan sebenarnya benar-benar perlu, padahal sebenarnya sudah terbukti berhasil ditatalaksanakan oleh kementerian-kementerian kebudayaan di Brasil, Australia, Kamboja, Taiwan, Tiongkok, Kolombia, Kroasia, Ceko, Denmark, Mesir, Estonia, Perancis, India, Lituania, Lebanon, Selandia Baru, Korea Utara, Norwegia, Polandia, Portugal, Slowakia, Slovenia, Spanyol, Turki, Thailand, Suriah, Afrika Selatan, Swedia, dan entah mana lagi.

Fakta bahwa kini jumlah negara anggota UNESCO sudah lebih banyak melampaui jumlah negara anggota PBB merupakan bukti nyata betapa dunia masa kini menjunjung tinggi kebudayaan!

Fakta bahwa jalur militer, politik, dan ekonomi tidak berhasil memadamkan kobaran api perang di marcapada ini menggarisbawahi jalur kebudayaan lebih indah untuk ditempuh demi menjalin pengertian, persahabatan, dan perdamaian antarbangsa.

Fakta membuktikan bahwa Indonesia masih tertatih-tatih dalam menghadapi kemelut persaingan politik, ekonomi, dan teknologi era globalisasi, padahal dalam hal perbendaharaan keanekaragaman kebudayaan, Indonesia sulit tertandingi negara mana pun juga di planet Bumi ini!

Bagi mereka yang masih meragukan apa yang dapat dipersembahkan kementerian kebudayaan bagi negara, bangsa, dan rakyat Indonesia, saya berani menjamin bahwa para tokoh budayawan Nusantara, seperti Gus Mus, Romo Franz Magnis-Suseno, Jakob Oetama, Goenawan Mohamad, Aristides Katoppo, Din Syamsuddin, Hasyim Muzadi, Emil Salim, Bantei Pannyavaro, Anies Baswedan, Syafii Maarif, Siti Musdah Mulia, Ibunda Nuriyah Wahid, para putri Gus Dur, M Sobary, Radhar Panca Dahana, Emha Ainun Najib, Ninok Leksono, para laskar cendekia-budayawan Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, Universitas Hasanuddin, dan lain-lain pasti siap siaga membantu presiden menyusun garis besar haluan rencana kerja kementerian kebudayaan, demi meraih cita-cita terluhur bangsa Indonesia: masyarakat adil dan makmur!

SBY-Jokowi

SBY-Jokowi

Putu Setia  ;   Pengarang, Wartawan Senior Tempo
TEMPO.CO, 30 Agustus 2014
                                      


BALI ibarat kedatangan dua kepala negara yang mengadakan KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) pada Selasa lalu. Keamanan di kawasan Nusa Dua diperketat. Hotel tempat pertemuan kedua tokoh itu dijaga berlapis. Wartawan, baik media cetak, televisi, maupun online, dan wartawan media sosial (jurnalis warga, ehm, keren) sudah menunggu sejak siang, padahal pertemuan dimulai malam hari.
Siapa kedua petinggi itu? Yang satu masih menjabat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, disingkat SBY. Yang satu lagi, Presiden terpilih Joko Widodo, dipopulerkan Jokowi. Ealah, kenapa begitu genting?

Karena pertemuan ini, menurut pengamat, bersejarah. Untuk pertama kali presiden yang akan lengser bertemu dengan presiden yang akan menggantikan. Sejarah mencatat-begitu kata pengamat yang belum kehilangan nyinyirnya di televisi-SBY telah menorehkan tradisi yang bagus dalam pergantian kepemimpinan nasional.

Soeharto menggantikan Sukarno dengan mengganjar "tahanan" untuk Sang Proklamator. Soeharto digantikan B.J. Habibie dengan "dipaksa" lewat aksi mahasiswa yang menduduki gedung DPR/MPR. Habibie diganti Abdurrahman Wahid dengan menolak pertanggungjawabannya di MPR, dan Abdurrahman Wahid pun digantikan Megawati dengan "persekongkolan" di MPR juga. Mega digantikan oleh SBY dengan pemilihan langsung oleh rakyat tetapi hubungan keduanya beku. Nah, layaklah pertemuan SBY dan Jokowi jadi sejarah.

Rakyat yang lebih banyak di rumah menonton televisi-sulit keluar karena Premium sudah langka di sepanjang Aceh sampai Merauke-menunggu siaran langsung pertemuan itu. Jokowi pun terlihat tergopoh-gopoh menghampiri SBY, mengenakan baju batik, bukan baju putih yang lengannya digulung. Jokowi sadar ini bukan blusukan, tetapi pertemuan formal, harus berpakaian rapi sesuai dengan budaya Nusantara. Dia disambut SBY dengan kedua tangan, sesaat melakukan cipika-cipiki (ini ritual formal yang tak perlu dijelaskan), lalu menuju meja dengan dua kursi yang sudah disiapkan. Pertemuan empat mata.

Seusai pertemuan, kedua tokoh diberi mimbar yang bentuknya sama persis, dengan lambang Garuda Pancasila-bukan garuda yang lain. Keduanya menjelaskan apa yang dibicarakan. Apa? La, apa, ya? Ini adalah pertemuan awal yang akan dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya, begitu inti penjelasan. Ya, formal banget.

Esoknya, dan esoknya lagi, beredar berita bahwa Jokowi mengusulkan agar SBY segera menaikkan harga bahan bakar minyak, tetapi SBY menolak. Berita ini terus digoreng sehingga apa benar hal itu dibicarakan dalam "empat mata" tak jelas. Atau hanya dibicarakan dalam "bukan empat mata", juga tak jelas. (Belum ada komentar dari Tukul Arwana, host Bukan Empat Mata). Tiba-tiba saja Jokowi mengatakan: "Saya siap tidak populer untuk menaikkan harga minyak."

Jika SBY takut (lebih bagus kata itu diganti hati-hati), tampaknya Jokowi sudah mantap menaikkan harga minyak, kompak dengan Jusuf Kalla, wakilnya. Tetapi tak sesuai dengan tuit dari Megawati (@MegawatiSSP) yang intinya lebih baik cari jalan lain, misalnya Premium bersubsidi dilarang untuk mobil dan sepeda motor di atas 150 cc. Tak sesuai pula dengan pernyataan Faisal Akbar, deputi tim transisi, yang menyebutkan: ada opsi lain seperti menaikkan pajak sepeda motor dan mobil, lalu mengoptimalkan pajak tambang. Bahkan tuit Rieke Diah Pitaloka (@Rieke_RDP) lebih keras: TOLAK KENAIKAN HARGA BBM (huruf kapital sesuai dengan aslinya).

Minyak mudah membakar atau membuat orang tergelincir. Sebelum saya tergelincir, lebih baik saya akhiri tulisan ini. Biarkan SBY dan Jokowi yang menulis sejarah.
Back to top